RSS

Pathetic 4




Pathetic 4, kalo ditranslit nih artinya empat cewek menyedihkan. Owow, aneeh! Bukan berarti menyedihkan sangat gitu, Cuma kadang-kadang emang menyedihkan sangat sii, wwk. Mulai aja ya critanya, kaya begini nih…
Empat orang yang dipertemukan oleh takdir disebuah ruang kelas yang multifungsi (soale kelasnya bisa jadi aula kapan saja, wwk). Entahlah apa yang membuat empat orang cewek ini menjadi dekat. Kalo ditelusuri mungkin karena mereka sering duduk depan-belakang, sama-sama suka sama warna ijo, suka cerita Tere-Liye, suka komik Conan,  suka ditraktir, suka duduk di catwalk lah, suka… ya pokoke suka-suka laah. Oya satu hal lagi hal yang muncul setelah hampir satu tahun berkawan yaitu, suka nganalisis. Ini ni kesukaan mereka yang bahaya. Perlu diwaspadai! Waspadalah! Waspadalah! Haha.
Siapa aja si empat cewek aneh itu? Ini dia…



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (3)

MMSPH 15 (terakhir): Kupu-Kupu Monarch oleh Darwis Tere Liye




Aku lama tidak kembali ke kota ini. Hampir dua puluh tahun. Perjalanan yang melelahkan. Mengelilingi separuh dunia hanya untuk melupakan. Hari ini aku pulang. Berusaha mengenang semua jejak kaki. Semoga masih ada yang tersisa. Semoga masih ada yang kukenali. Dengan semua kenangan itu, bukan keputusan mudah untuk kembali. Seperti menoreh kembali luka yang sudah mengering. Menyakitkan. Tapi ibarat seekor bangau yang terbang jauh, aku harus kembali jua ke kota ini. Rindu. Tak mengapa mengenang sedikit luka itu.
Aku berdiri takjim di pemakaman kota.  Menatap sekitar.
Sepagi ini pemakaman kota terlihat begitu indah. Dipenuhi hiasan bunga. Merah. Kuning. Putih. Bertebaran. Bebungaan yang disampirkan di nisan-nisan besar. Bebungaan melilit kayu yang dipasang silang-menyilang. Bebungaan di air mancur tengah pemakaman. Bebungaan di patung yang banyak berserak. Sungguh pekuburan berubah menjadi taman bunga. Nuansa buram kecoklatan berpadu dengan warna-warni ceria. Hari ini: Hari Monarch. Hari di mana seluruh penduduk kota kami meyakinijiwa yang pergi akan kembali. Hari ini penduduk kota akan berpiknik di pemakaman.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 14: Perbandingan-Perbandingan oleh Darwis Tere Liye




JONI, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Akuntansi. Masih sempatlah SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini dia mau sidang skripsi. Pliz, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu, sayang sepuluh SMS dikirim, tak satupun yang ngasih reply. Mungkin teman-temannya lagi sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Joni membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan. Joni semakin ketar-ketir. Eh, masa’ iya nggak ada teman-temannya yang reply SMS? Joni mencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada kemana mereka hari ini?
Duh, kemana pula Puput pacarnya. Masa’ di hari sepenting ini, pacarnya nggak kasih doa selamat berjuang atau apa kek. Joni mengusap dahinya yang berkeringat. Puput mungkin masih bete. Mereka memang habis bertengkar dua hari lalu. Puput malah ngancam mau putus segala.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Joni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar. Semoga semuanya lancar.

***



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 13: LOVE Ver 7.0 & Married Ver 9.0 oleh Darwis Tere Liye




Catatan: Anda sebaiknya sudah membaca Cintanometer dalam MMsPH 1


Di kota kami, walau terletak persis di tengah-tengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian awan hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.
Jangan salah sangka dulu, kota kami memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat dukun-dukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.
Di sini banyak penemu. Yang terhebat di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan seribu-penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai penemuan hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.
Tetapi suatu hari, dewan kota mendadak mengadakan pertemuan. Benar-benar ada hal super-penting yang telah terjadi, karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk kedua kalinya dalam lima ratus tahun terakhir.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 12: Kutukan Kecantikan Miss X - Season 2 oleh Darwis Tere Liye




 Januari
Musim penghujan, sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kost-an. Hari kerja pertama tahun ini. Sekaligus Senin pertama tahun ini. Langit kota terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan menyebalkan.

Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri. Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja. Sudah hampir empat tahun. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama. Meski penumpangnya berbeda-beda.

Dan inilah awal segala kisah menyedihkan ini….

Pagi itu, se-isi bus terlihat muram. Mungkin setelah libur akhir tahun yang menyenangkan, kembali bekerja bukanlah hal yang bisa membangkitkan antusiasme. Aku tersenyum ke beberapa penumpang yang kukenali. Wajah-wajah masih mengantuk. Hingga, hei! Di kursi tempatku biasa duduk, baris ke enam dari depan, dekat jendela sebelah kanan. Sudah duduk dengan manisnya seorang gadis. Oh-Ibu! Aku menelan ludah. Sungguh selalu membuatku terpesona.

Aku berdehem pelan. Gadis itu mengangkat kepalanya, “Kursi di sebelahnya kosong?” Pertanyaan basa-basi.

Gadis itu mengangguk.

“Boleh aku duduk?”

Gadis itu mengangguk lagi.

Percaya atau tidak, itulah percakapan terlama yang pernah aku lakukan dengannya selama tiga bulan berlalu. Sisanya? Aku hanya duduk diam membeku. Hanya melirik-lirik. Hanya bergumam tak jelas. Hanya sibuk meneguhkan hati untuk mengajaknya bicara. Sementara gadis itu takjim melihat keluar jendela kaca. Menatap jalanan yang mulai ramai.

***



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 11: Mimpi2 Si Patah Hati (Laila-Majnun) oleh Darwis Tere Liye




Perkampungan itu dipenuhi oleh pepohonan hijau. Sejuk dan nyaman sebagaimana mestinya sebuah oase. Yang mengejutkan, sebuah danau kecil tepat berada di tengah-tengahnya. Sepagi ini sepasang bebek liar berbintik kelabu berenang bercengkerama dengan riang. Anakanaknya hilir mudik belajar menyelam di sela-sela kaki berselaput sang induk, melesat bagai lemparan sebongkah batu berwarna kuning.

Rumah-rumah berbentuk kotak berbahan lumpur berderet-deret mengitari danau, seperti manusia yang mengelilingi ka’bah saat tawaf di tanah suci. Modelnya hampir serupa, hanya jumlah pintu dan jendela yang membedakan rumah mana milik pedagang kaya dan rumah mana milik seorang tukang besi atau penjual kayu bakar. Tetapi rumah yang besar dan rumah yang kecil sedikit jumlahnya, lebih banyak yang sedang-sedang saja. Di gurun ini, tak ada yang peduli seberapa besar rumah kalian, apalagi ketika badai pasir datang menggulung.

Pohon kurma tumbuh subur, lempar bijinya dan biarkan kasih-sayang alam merekahkan kecambahnya. Sepagi ini di sudut oase, tiga kelopak daun muda dibuliri tetesan embun berkilauan, muncul dari tanah menjanjikan  bekal kehidupan berpuluh-puluh mulut penduduk oase hingga tiga generasi mendatang. Dan karena hampir setiap pintu rumah memiliki kebun kurma, walau sekedar tiga-lima batang, itu berarti tak akan ada yang kelaparan di sini.

Wanita-wanita berkerudung lalu lalang membawa pekerjaan. Setumpuk pakaian kotor, menuju sumur-sumur umum yang terdapat di setiap luas sekian hasta persegi pemukiman. Sekulak butiran gandum, menuju adonan dan pemanggangan roti masing-masing. Segerombolan anak dengan rambut masai dan pipi berbekas, diseret dan diomeli untuk dimandikan. Rempah-rempah dan daging kibas dijual oleh pendatang jauh di ramainya pasar. Para lelaki mulai sibuk dengan perniagaan. Penyekat toko satu persatu segera dilepaskan. Kehidupan sudah dimulai di perkampungan oase tersebut pagi ini.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 10: Kotak-Kotak Kehidupan Andrei oleh Darwis Tere Liye




Rumah kami tak jauh berbeda dengan rumah tetangga sekitar. Jadi setiap arisan itu dilakukan, ibu-ibu tidak banyak berkomentar dan tidak memelototi satu persatu barang-barang yang terpajang di ruangan.

Mereka tidak tahu, sih.

Di ruangan terjauh dan terdalam rumah kami, di pojok tergelap dan berdebu, di ketinggian atas lemari yang sulit dijangkau tangan kanak-kanakku, ibuku meletakkan benda kami yang paling indah, yang menurutku jauh lebih berharga dibandingkan seluruh rumah dan seisinya di sepanjang gang Potlot ini.

Benda itu adalah sebuah kotak.

Aku malam-malam, setelah ibu terlelap dalam tidurnya, suka sekali mencuri-curi pandang kotak itu. Berjinjit di atas lantai berdebu, menggenggam erat sepucuk senter, berhati-hati menyeret dan menaiki sebuah kursi. Dan di antara buramnya cahaya senter, kotak itu berpendar indah. Amat cantik. Kau letakkan dimana saja, benda ini akan cocok dengan sendirinya.

Seluruh permukaan dan sudut-sudutnya mungkin dibuat oleh pemahat terbaik yang pernah ada. Membuat bunga-bunga, kupu-kupu, dan berbagai bentuk lainnya seperti hidup menyenandungkan kegembiraan. Tiba-tiba aku jatuh cinta dengan kotak ini. Dan akhirnya setiap malam aku selalu menyempatkan diri menjenguk, sekadar untuk membelainya.

Pernah suatu ketika guru kami di sekolah bercerita soal kotak pandora yang terkenal itu. Kotak yang menurut guru kami amat indah dan mempesona, tak ada duanya di dunia. Mendengar guruku mendeskripsikan bentuknya, tanganku reflek teracung dan berseru, “Ada satu yang seperti itu di rumah kami!” Seluruh isi kelas riuh mentertawakanku.

Mereka tidak tahu, sih.

Tetapi bukan soal ketidakpercayaan itu yang tibatiba membuatku tidak nyaman. Saat guru kami bercerita lebih lanjut isi kotak pandora itu, di jantungku tumbuh dengan sangat cepat dan liarnya rasa penasaran. Apakah sebenarnya isi kotak di rumah kami? Apakah seseram isi kotak pandora yang keluar pertama? Atau seindah isi kotak pandora yang keluar berikutnya? Bagaimana pula aku yang selama ini setiap hari membelainya, tidak pernah tergerak sedikit pun untuk membukanya jauh-jauh hari. Maka, malam ini kuputuskan mengintip isi kotak itu.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)