“Ayu, kamu tuh pernah nyadar nggak, sih? Sekali saja seumur hidup lu! Please. Topan itu Hiu! Ibarat piramida makanan, Topan itu ada di puncaknya. Sedangkan lu persis berada di strata terbawah rantai makanan tersebut. “ Aku berseru jengkel. Melempar sapu-tangan.
“Sudah berapa banyak coba cewek lain yang dipermainkan cinta gombal Topan. Dia emang ganteng! Pandai sekali bicara. Romantis. Apa yang lu bilang? Dia tipe cowok yang sempurna. Itu benar. Tapi, aduh, kalau lu mau sedikit berpikir waras, lihatlah! Semua kehebatan Topan yang lu sebut-sebut mirip banget dengan tabiat playboy kelas internasional! Lu cuma jadi mangsa isengnya doang!” Aku menatap setengah prihatin, setengah sebal, setengah kasihan (eh, totalnya jadi satu setengah ya? Harusnya sepertiga prihatin, sepertiga sebal dan sepertiga kasihan, hihi!).
Ayu masih menangis pelan di hadapanku. Sedih nian mendengar ceramahku (apalagi di bagian yang bilang-bilang perangai buruk Topan). Ayu menyeka ujung-ujung matanya dengan sapu tangan. Tertunduk.
“Coba lu hitung! Ini untuk berapa kalinya Topan nyakitin lu? Minggu lalu lu harus nunggu dia dua jam. Dia nggak datang. Dua minggu lalu dia juga bikin lu nunggu dua jam. Dia nggak datang! Juga minggu-minggu lalu. Apa alasannya? Lupa! Ada keperluan keluarga. Kakinya bisulan. Inilah! Itulah! Ampun, lu mudah banget menerima permintaan maafnya. Mudah banget mengangguk menerima penjelasannya. Anak kecil saja nggak segitunya kalau lagi ditipu Ibunya biar nggak ikut pergi, mereka pasti protes, pasti merajuk! Lu? Sempurna menerima, lantas terkulai lemah tak berdaya penuh penghargaan saat Topan lembut mendekap bahu lu! Bah!” Ceramahku semakin panjang.
Ayu tertunduk semakin dalam.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO Read Users' Comments (0)





