RSS

MMSPH 9: Cinta Zooplankton oleh Darwis Tere Liye




“Ayu, kamu tuh pernah nyadar nggak, sih? Sekali saja seumur hidup lu! Please. Topan itu Hiu! Ibarat piramida makanan, Topan itu ada di puncaknya. Sedangkan lu persis berada di strata terbawah rantai makanan tersebut. “ Aku berseru jengkel. Melempar sapu-tangan.
“Sudah berapa banyak coba cewek lain yang dipermainkan cinta gombal Topan. Dia emang ganteng! Pandai sekali bicara. Romantis. Apa yang lu bilang? Dia tipe cowok yang sempurna. Itu benar. Tapi, aduh, kalau lu mau sedikit berpikir waras, lihatlah! Semua kehebatan Topan yang lu sebut-sebut mirip banget dengan tabiat playboy kelas internasional! Lu cuma jadi mangsa isengnya doang!” Aku menatap setengah prihatin, setengah sebal, setengah kasihan (eh, totalnya jadi satu setengah ya? Harusnya sepertiga prihatin, sepertiga sebal dan sepertiga kasihan, hihi!).
Ayu masih menangis pelan di hadapanku. Sedih nian mendengar ceramahku (apalagi di bagian yang bilang-bilang perangai buruk Topan). Ayu menyeka ujung-ujung matanya dengan sapu tangan.  Tertunduk.
“Coba lu hitung! Ini untuk berapa kalinya Topan nyakitin lu? Minggu lalu lu harus nunggu dia dua jam. Dia nggak datang. Dua minggu lalu dia juga bikin lu nunggu dua jam. Dia nggak datang! Juga minggu-minggu lalu. Apa alasannya? Lupa! Ada keperluan keluarga. Kakinya bisulan. Inilah! Itulah! Ampun, lu mudah banget menerima permintaan maafnya. Mudah banget mengangguk menerima penjelasannya. Anak kecil saja nggak segitunya kalau lagi ditipu Ibunya biar nggak ikut pergi, mereka pasti protes, pasti merajuk! Lu? Sempurna menerima, lantas terkulai lemah tak berdaya penuh penghargaan saat Topan lembut mendekap bahu lu! Bah!” Ceramahku semakin panjang.
Ayu tertunduk semakin dalam.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 8: Lily & Tiga Pria Itu oleh Darwis Tere Liye



Adakah yang pernah mengatakan kepada kalian, waktu itu adalah lingkaran nasib yang berputar tanpa henti? Siang-malam, pagi-petang, sepanjang tahun tak pernah rehat. Dalam setiap kesempatan putaran nasibnya selalu terjadi tiga kemungkinan. Paralel, bergerak serentak. Jikalah waktu bisa dimampatkan menjadi benda padat, lantas diletakkan di atas lintasan sirkular, maka kalian bisa menyaksikannya laksana tiga ekor kuda pacuan yang membelah sirkuit. Kencang memedihkan mata, berputar-putar tanpa henti jutaan lap.

Masalahnya selama ini kita tidak pernah terlalu peduli soal rentetan detik dan menit, kecuali menyangkut tentang kapan makan siang, kapan masuk kerja, kapan pulang kerja, kapan gajian tiba, dan kapan hari-hari libur. Kebanyakan dari kita lebih peduli tentang yang satu itu: nasib.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 7: Hiks! Kupikir kau naksir aku oleh Darwis Tere Liye



 Ini benar-benar menyebalkan, tabiat Putri mirip banget dengan cewek lain yang sedang jatuh cinta. Selalu membesar-besarkan sebuah kejadian. Tertawa riang saat menceritakan kejadian-kejadian sepele tersebut. Seolah-olah itu pertanda cinta yang sempurna kalau yang sedang ditaksirnya benar-benar juga menyukainya.
Bayangin, cowok itu lagi kentut saja, mungkin bisa diartikan Putri kalau tuh cowok grogi saat ketemu dengannya. Apalagi pas lihat mukanya memerah. Keringatan. “Aduh, aku nggak nyangka dia bakal se-nervous itu, Tin! Kayaknya dia juga suka ke aku, deh!” Mata Putri berbinar-binar macam bintang kejora saat menceritakannya. Padahal kalau Putri mau waras sedikit, jelas-jelas cowok itu sedang kebelet mau ke belakang. Pengin puf! Tapi mana ada coba rasionalitas bagi orang yang sedang jatuh-cinta setengah mampus seperti Putri?



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 6: Bila Semua Wanita Cantik oleh Darwis Tere Liye



Alkisah, ada anak super-gendut yang selalu diganggu teman-temannya. Setiap hari diteriaki, “Gendut! Gendut! Badak! Badak!” Anak itu menangis. Tersedu. Berlari menjauh dengan gelambir lemak di perut. Mengadu. Ibu-nya bilang tentang, “Jangan marah. Jangan diambil hati. Mereka hanya bergurau. Besok juga berhenti!” Tetapi esok-lusa kelakuan teman-temannya tak pernah kunjung reda. Berbilang hari malah menjadi-jadi. Cubit sana. Cubit sini. Maka semakin sering bersedihlah anak itu.

Hingga suatu malam, di tengah senyapnya gelap, sang anak mengangkat kedua tangannya, tengadah ke langit buram, “Ya Tuhan, kurus-kan-lah aku. Aku mohon….” Anak itu menangis tersedu, bersimpuh penuh harap, “Atau kalau Kau tidak berkenan membuatku kurus, maka buatlah gendut seluruh teman-temanku…. Aku mohon! Biar kami sama…. Biar kami sama….”



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 5: Antara Kau Dan Aku oleh Darwis Tere Liye




Lantai sebelas sepi. Nyaris semua penghuninya keluar makan siang, hanya ada dua-tiga orang saja yang masih berkutat di depan komputer masingmasing. Dan salah dua di antaranya adalah gadis dan pemuda yang duduk jauh berseberangan itu. Terpisah oleh meja-meja dan partisi setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di tengahtengah ruangan.

Tetapi entah siapa yang menyusun berbagai halangan tersebut, disengaja atau tidak, mereka berdua tetap masih bisa saling melihat dari sela-sela berbagai barang. Untuk ukuran sejauh itu tidak jelas benar memang paras muka masing-masing, tetapi kalian masih bisa dengan mudah memahami gerak tubuh orang di seberangnya.

Seperti yang sedang terjadi saat ini. Gadis itu melirik berkali-kali ke depan, ia sedang menunggu. Menunggu pemuda itu beranjak berdiri, kemudian turun untuk makan siang. Resah sekali ia. Seperti kemarin, hari ini gadis itu ingin berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masingmasing. Tetapi nampaknya pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri pekerjaannya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

MMSPH 4: Harga Sebuah Pertemuan oleh Darwis Tere Liye




Korban 1:

Laki-laki; 178cm/80kg; usia, 45 tahun; golongan darah, AB; pekerjaan, wiraswasta dan politisi sukses; tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, tidak menggunakan obat-obatan terlarang; tampan, kaya raya, memiliki kekuasaan dan pengaruh politik besar; kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung-jawab. Menurut tetangga sekitar, korban sehari-hari dikenal ramah-bersahabat, memiliki keluarga yang terlihat amat bahagia.

Ditemukan tewas oleh room boy di kamar 709 salah satu hotel ternama, 28 Februari tahun ini. Hasil diagnosis laboratorium forensik menunjukkan korban positif tewas karena kesengajaan. Meskipun belum bisa dipastikan bagaimana dan oleh siapa. Kemungkinan besar diracun.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)

Katakan dan Jalanilah dengan Sederhana




Naskah Tajuk Cinta Pro2FM (105 FM); Kamis 5 April 2007, jam 22.00
Cinta itu pengorbanan! Teriak lantang seseorang yang kebetulan gagah-berani, yang tubuhnya sedikit berlemak, banyak berotot. Cinta itu pengorbanan?? Tunggu dulu. Bah, pengorbanan apa yang telah kita lakukan demi si dia tercinta? Hujan-hujanan mengantarnya pulang? Sepayung berdua, dan membiarkan sisi kita yang lebih banyak terkena air hujan? Atau pengorbanan saat membatalkan belasan jadwal keluarga untuk menemaninya ke dokter gigi dua kali seminggu? Mengurangi kesenangan pribadi demi menungguinya berjam-jam saat ujian? Itu sih bukan pengorbanan. Atau kalau mau tetap dibilang pengorbanan, ya kelasnya rendah sekali.

Yang kelasnya lebih tinggi? Seperti kita rela mati demi si dia? Aih, hari gini masih bicara nonsense. Bukankah kita malah sering bilang “dasar bodoh” kepada pelakunya saat membaca (misalnya) seorang ibu bunuh diri bersama tiga anak-anaknya yang masih kecil. Padahal boleh jadi bagi Ibu tersebut itulah wujud cinta sejati dengan anak-anaknya. Hidup bersama, mati juga bersama. Atau kita justru mengangkat alis tidak bersimpati saat membaca sepasang kekasih ditemukan mati berpelukan di pinggir sungai dengan botol baygon beberapa tahun silam (karena cinta mereka dilarang oleh orang-tua). Lupakan soal memang betapa bodoh keputusan mereka, tapi setidaknya hal ini menunjukkan seberapa baik kita memahami soal pengorbanan, tentang keputusan heroik.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Users' Comments (0)